ABRAHAM, BAPA ORANG BERIMAN

 "Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakaan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, - tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, - seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" - di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada" (Roma 4:16-17).

Temuan arkheologi di Mesopotamia memberi informasi bahwa di zaman Abraham, peradaban di Ur sudah sangat maju. Tingkat kemakmuran masyarakat sudah sangat tinggi. Dalam situasi demikian, panggilan Allah datang kepada Abram untuk meninggalkan negerinya dan sanak keluarganya untuk pergi ke tempat yang akan ditunjukkan Allah kepadanya. Dalam hal ini, Abraham rela meninggalkan kemapanan dan mengikuti panggilan Tuhan.

Jika dibandingkan negeri Kanaan, negeri yang Tuhan janjikan kepadanya, sesungguhnya sangat kuat alasan bagi Abraham untuk memiliki sikap yang berbeda. Di Kanaan, Abraham harus berpindah-pindah tempat, tinggal di dalam kemah di tengah iklim yang sangat ekstrim, sangatlah berbeda dengan tempat tinggal sebelumnya, baik di Ur Kasdim maupun di Haran. Namun, dalam ketaatannya kepada Allah, ia rela tinggal menetap di Kanaan walaupun secara devacto ia sendiri belum menguasai daerah itu, terbukti di saat ia menguburkan Sarah, ia harus membeli sebuah ladang di Mamre. Jadi, sementara Abraham berada di tanah yang Allah janjikan, sesungguhnya ia sedang mengarahkan pandangannya atau pengharapannya kepada tanah air sorgawi serta rumah yang kekal yang Allah sediakan.

Selanjutnya, Abraham juga beriman bahwa Allah itu berkuasa membangkitkan orang mati. Waktu itu Sarah dan Abraham sudah sangat tua, secara manusia sudah tidak mungkin punya anak (harapan sudah mati). Namun Malaikat Tuhan datang kepada mereka berdua menghidupkan/membangkitkan harapan itu, bahwa tahun depan mereka akan punya anak, dan betul hal itu terjadi. Maka pada saat Tuhan meminta abraham mempersembahkan Isak, Abraham tidak ragu untuk melakukannya karena ia yakin bahwa Allah berkuasa untuk membangkitkannya. Dan Abraham lulus dalam ujian iman.

Bagaimana dengan kita orang beriman yang hidup zaman sekarang? Kita adalah anak-anak Abraham, yang seyogyanya mewarisi kualitas2 iman sebagaimana saya uraikan di atas.

Pertanyaan yang penting direnungkan adalah bagaimana kita beriman kepada Allah di tengah-tengah godaan hedonisme dan materialisme? Bagaimana sikap iman kita jika ternyata kita seperti Abraham harus mengembara, dan bahkan kita hidup serba sederhana? Mungkin kita bertanya, dimanakah janji dari Allah yang maha kaya? Sama seperti Abraham, walaupun sudah berada di negeri yang dijanjikan yaitu Kanaan, namun ia tetap mengarahkan pandangannya kepada tanah air sorgawi. Itulah tujuan hidupnya. Dunia ini hanyalah tempat sementara bagi kita, kita sedang mempersiapkan diri menuju tanah air sorgawi, rumah Bapa yang Yesus Kristus sedang siapkan bagi kita yang beriman kepada-Nya.

Salam misioner🙏

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gerakan Injili dan Panggilan Gereja

URUSANMU: “IKUTLAH AKU”

"KUTUK MENJADI BERKAT"