Gerakan Injili dan Panggilan Gereja

Untuk memahami secara komprehensif tentang topik ini sebagaimana yang diajarkan oleh Alkitab, maka pembahasannya saya mulai dari pokok tentang panggilan gereja, kemudian masuk pada pokok tentang gerakan Injili. Kenapa, karena gereja dalam mewujudkan tugas dan panggilannya mengalami berbagai fase perkembangan dan perubahan-perubahan, termasuk munculnya gerakan injili.

 1. Misi Allah Bagi Dunia.

Membahas tentang panggilan gereja, tidak dapat dipisahkan dari pembahasan misi Allah bagi dunia ini. Sejak kejatuhan manusia kedalam dosa, Allah di dalam kasih-Nya yang kekal, menyatakan tindakan-Nya menyelamatkan manusia dari dosa. Firman Allah berkata, Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya (Kej. 3:15). Ayat ini dikenal sebagai Proto-Evangelium (Injil Pertama). Dua unsur penting dalam ayat ini yang sebelumnya tidak dikenal di Taman Eden, yaitu kutukan atas umat manusia karena dosa Adam dan penyediaan keselamatan dari dosa.  Akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka manusia semakin jauh dari Tuhan dan hidup dalam dosa. Kain membunuh Habel, adiknya, adalah bukti kerusakan akhlak dan moral manusia. Kondisi seperti ini semakin memburuk, sampai Allah menyesal telah menciptakan manusia (Kej. 6:6), sehingga Ia menghukum bumi dengan air bah. Di dalam penghukuman tersebut Allah tetap menyatakan kasih dan rencana penyelamatan-Nya bagi manusia, sehingga Ia menyelamatkan Nuh dan keluarganya.

Tindakan Allah selanjutnya dalam perjalanan sejarah manusia adalah memilih suatu kaum atau umat yang dijadikan milik kepunyaan-Nya, melalui Abraham. Kejadian pasal 12 mengisahkan bagaimana Allah memilih dan memanggil Abraham dan menempatkannya di tanah Kanaan, tanah atau wilayah yang sangat strategis bagi umat pilihan-Nya menjalankan misi Allah dalam kehidupannya. Di lingkungan bangsa-bangsa, Kanaan dikenal sebagai pintu gerbang. Masyarakat dari Barat ke Timur atau sebaliknya, dan dari Utara ke Selatan dan sebaliknya, akan melewati Kanaan. Jadi, Kanaan adalah tempat stategis yang Allah pilih untuk menaruh umat-Nya agar dapat mengemban misi Allah secara efektif dan efisien. Bahkan di zaman Tuhan Yesus, daerah Kapernaum di bagian utara Kanaan, disebut wilayah bangsa-bangsa karena menjadi daerah lalulintas internasional. Allah yang mengasihi seisi dunia ini, memberkati umat pilihan-Nya dan menjadikannya sebagai saluran berkat bagi bangsa-bangsa lain. Inilah cara kerja Allah secara progresif dalam mewujudkan misi-Nya menyelamatkan umat manusia.

Dalam perkembangan selanjutnya sebagaimana yang telah tertuang dalam Proto-Evangelium, setelah genap waktunya maka Allah mengutus Anak-Nya (Gal. 4:4). Pengutusan ini didorong oleh kasih yang begitu besar. Alkitab berkata, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).  Dalam Misiologi, tindakan ini disebut “Missio Dei”. Dasarnya adalah “kasih yang begitu besar”, target atau sasarannya adalah “dunia ini” yaitu setiap orang dan diharapkan memberi respon “percaya kepada Yesus Kristus”, wujudnya adalah “mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” yaitu Yesus Kristus, dan hasilnya adalah “tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Begitu luhur dan agung kasih Allah bagi dunia ini. Ia tidak mementingkan diri-Nya sendiri, malahan rela berkorban guna keselamatan umat manusia. Kasih seperti inilah yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku diri sebagai anak-anak Allah.

Selanjutnya, Tuhan Yesus dalam pelayanan-Nya mewujudkan misi Allah itu, Ia juga mengutus murid-murid-Nya dengan mengatakan, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh. 20:21). Dalam misiologi, pengutusan ini disebut Missio Filli. Korelasi dan kontinuitas dari Missio Dei dan Missio Filli sangat jelas diperlihatkan dalam ayat ini dengan ungkapan “sama seperti.”

Selanjutnya, setelah gereja terbentuk sebagai buah atau hasil dari misi Allah, dengan terbentuknya persekutuan atau perkumpulan orang-orang yang telah dipanggil dan diselamatkan, maka gereja juga melanjutkan misi Allah bagi dunia ini sebagai wujud ketaatan gereja terhadap Amanat Agung Tuhan Yesus yang mengatakan, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:19-20). Sebagai wujud ketaatan pada Amanat Agung ini maka gereja mengutus utusan-utusan Injil (Missio Ecclesiae). Kasih yang begitu besar, yang menjadi penggerak dalam Missio Dei dan Missio Filli, harus ada dalam Missio Ecclesiae. Kasih Allah yang ada pada setiap orang percaya, dan keprihatinan kepada jiwa-jiwa yang sedang menuju kebinasaan akibat dosa, itulah yang menggerakkan gereja melaksanakan misi Allah. Agar gereja efektif dalam misi Allah, maka gereja harus memegang teguh hal-hal esensial tentang gereja.

Pertama, Hidup sebagai orang yang dipanggil oleh Allah. Gereja (Yun.: ekklesia) adalah orang-orang yang dipanggil keluar dari kegelapan dosa dan masuk ke dalam terang Kristus. Rasul Paulus mengatakan, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang” (Efe. 5:8). Seperti apakah terang yang harus dimiliki oleh gereja atau anak-anak Tuhan? Tuhan Yesus berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yoh. 8:12). Lagi Tuhan Yesus berkata, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:14-14). Terang yang dimiliki oleh gereja adalah terang yang dari Yesus Kristus, karena Dialah Sang Terang itu. Terang itu adalah untuk menerangi dunia. Kehadirannya akan menyingkapkan dosa yang disembunyikan, sekaligus menerangi jalan yang hendak dituju. Jadi ia berfungsi korektif dan direktif. Gereja sebagai pembawa terang bagi dunia, berfungsi mengoreksi perilaku-perilaku kegelapan, menyingkapkan perbuatan-perbuatan dosa sehingga orang-orang berdosa dapat menyadari dosa dan kesalahannya; selain itu gereja juga menuntun setiap orang berjalan dalam terang kasih Tuhan, melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran dan mempermuliakan Allah. Agar gereja berhasil dalam misinya sebagai pembawa terang, gereja harus steril dari perilaku-perilaku kegelapan. Gereja harus menghindarkan diri dari kompromi-kompromi terhadap dosa.

Kedua, Hidup serupa dengan Kristus. Rasul Paulus mengatakan, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Roma 8:29). Keserupaan dengan gambaran Yesus Kristus, Anak Allah, dimungkinkan oleh karena kita orang yang percaya telah dilahirkan kembali dari Roh (Yoh. 3:3-8). Rasul Paulus berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2). Dari ayat-ayat di atas sudah jelas sikap dan pola hidup yang harus ditunjukkan oleh gereja, yang menjadikannya efektif menjalankan perannya di dunia. Intinya: gereja dipanggil keluar dari kegelapan dunia, lalu diberi pola hidup baru oleh Kristus, dan dengan pola hidup itu Kristus mengutus gereja untuk meneragi dunia yang gelap. Menerangi dunia yang gelap bukanlah perkara yang mudah karena tantangannya sangat dahsyat. Sejak awal sejarah gereja, orang-orang kristen sudah menghadapi tantangan yang sangat berat. Para rasul dipenjarakan bahkan dibunuh karena setia pada ajaran Kristus. Sebagai contoh, Rasul Yakobus dibunuh oleh Herodes, dan dianggapnya sebagai sesuatu yang menyenangkan hati orang Yahudi, bahkan sangat bersemangat membunuh rasul-rasul lainnya, salah satunya adalah Rasul Petrus (Kis. 12:1-4). Demikian juga tokoh-tokoh gereja setelah para rasul, contohnya Polykarpus, sorang uskup Smirna. Tony Lane dengan mengutip buku “The Letter of the Smyrneans on the Martyrdom of Polycarp” menulis, “Gubernur Romawi berusaha membujuk Polykarpus untuk mengutuk Kristus agar dapat dibebaskan, akan tetapi ia menjawab: ‘86 tahun saya menjadi pelayan-Nya dan Ia tidak pernah berbuat salah terhadapku. Bagaimana saya dapat mengutuk Rajaku, yang telah menyelamatkan aku?’”[1] Demikian juga dengan Yustinus Martir, seorang yang lahir dari keluarga Yunani di Palestina pada awal abad ke-2, sebagai akibat kesetiaannya kepada Injil sehingga ia menghadapi kesulitan besar. Tony Lane menuliskan, “Pada tahun-tahun terakhir hidupnya Yustinus mengajar di Roma. Pada tahun 160-an ia beserta orang-orang lain ditangkap karena mereka orang Kristen. Ia menolak untuk melepaskan iman Kristennya dan menyembah ilah-ilah. Ia menghadapi maut  tanpa goyah dalam keyakinannya akan keselamatan dalam Kristus.”[2] Sejarah gereja mencatat bahwa dari masa ke masa sampai sekarang ini gereja tetap menghadapi berbagai tantangan. Jika diibaratkan gereja atau orang percaya sebagai lilin kecil, maka pergumulan terutama adalah bagaimana ia bertahan tetap menyala di tengah terpaan angin, dan hal kedua adalah bagaimana ia membesarnya nyalanya agar bisa menerangi sekelilingnya. Demikianlah kenyataan yang dihadapi gereja. Gereja (ekklesia) dipanggil keluar dari kegelapan untuk hidup dalam persekutuan dengan Kristus, kemudian diutus ke dalam dunia untuk menjadi terang. Yesus memberikan gambaran tantangan yang besar dengan mengatakan, “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Luk. 10:3). Ini sungguh suatu pengutusan yang sangat beresiko, namun Yesus sendiri menjaminkannya dengan janji penyertaan-Nya sampai kesudahan alam (Mat. 28:20). Dunia yang gelap oleh dosa akan menghanyutkan gereja dengan arus duniawi yang dahsyat atau angin pencobaan yang kencang, sehingga bisa memadamkan nyala api atau terang dari gereja. Bahkan lebih fatal lagi jika gereja dengan sengaja memilih memadamkan sendiri terangnya supaya gampang menyatu kembali dengan dunia. Atau mungkin terangnya tertelan/hanyut oleh derasnya pengaruh keduaniawian. Terkadang gereja mengadopsi cara-cara dunia yang jelas-jelas bertentangan dengan kehendak Tuhan. Contoh konkrit: Dalam sebuah kontestan atau pertandingan, orang duniawi menempuh cara yang licik atau curang agar gampang memperoleh kemenangan. Jika gereja melakukan cara yang sama agar tidak dikalahkan oleh orang duniawi, maka sesungguhnya gereja sudah gagal. Seharusnya gereja tetap memegang teguh nilai-nilai luhur ajaran Firman Tuhan.

Ketiga, Hidup dalam kesatuan sebagai tubuh Kristus. Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa untuk kesatuan tubuh Kristus. Yesus berkata, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh. 17:20-21). Sangat jelas dalam ayat ini tujuan dari kesatuan umat Tuhan, yaitu agar dunia percaya bahwa Yesus adalah utusan Bapa bagi keselamatan dunia. Kehidupan dalam gereja adalah cerminan kasih Allah. Kesatuan yang tercipta di antara umat Allah adalah atas dasar kasih Allah. Jemaat mula-mula sebagaimana dikisahkan dalam kitab Kisah Para Rasul bahwa mereka berkumpul setiap hari dalam kepedulian satu kepada yang lain, dan dengan demikian mereka bisa bertahan dari berbagai tantangan dan mampu menjadi saksi Kristus secara efektif. Andrew Brake mengatakan, “Mereka bertemu tiap-tiap hari. Mereka berkumpul untuk menyembah Allah dalam roh kesatuan. Dengan tekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Kata yang sama juga digunakan di Kisah Para Rasul 1:14, yang bisa diterjemahkan menjadi bergabung bersama. .... Mereka semua memiliki gairah yang sama  bagi Kristus dan memiliki kasih yang sama satu terhadap yang lain.”[3] Telah terbukti dalam Kisah Para Rasul bagaimana jemaat-jemaat didirikan, bertumbuh secara kualitas dan kuantitas, bahkan mencapai jangkauan yang semakin luas meliputi benua Asia dan Eropa. Kepada jemaat Filipi, Rasul Paulus menasihatkan demikian, “Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. ...” (Flp. 2:1-3). Hasil dari semua itu adalah orang-orang lain ikut berlutut dan menyembah Yesus Kristus. Rasul Paulus berkata, “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada dibawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:10-11). Jadi, gereja harus hidup dalam kasih, yaitu kasih yang sejati dari Allah. Sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus, kita semua terikat satu dengan yang lain oleh kasih Kristus, dimana Kristus adalah Kepala. Lagi pula, di dalam Kristus kita semua adalah saudara, bahkan Yesus sendiri menyebut kita sahabat. Betapa indah dan erat hubungan ini sehingga tidak ada hal yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus dan kasih terhadap sesama orang percaya. Jikalau kesatuan ini tercipta di kalangan gereja, maka kesaksian gereja tentang Injil Yesus Kristus akan menjadi sangat efektif, semakin banyak lidah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan. Namun demikian, sejarah gereja telah membuktikan bahwa perpecahan dan pertentangan atau pertikaian di kalangan gereja sulit terhindarkan, sehingga menjadi penghalang dalam kesaksian kristen.

Gereja adalah tubuh Kristus. Rasul Paulus berkata, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor. 12:27). Selanjutnya Rasul Paulus mengatakan, “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, -- yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota -- menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih” (Efe. 4:16). Jika gereja hidup dalam kesatuan, maka orang-orang lain akan melihat gambaran yang jelas tentang Kristus. Jika dalam kesatuan itu gereja menunjukkan kasih yang murni kepada sesama, maka orang-orang lain akan melihat gambara Kristus yang Mahakasih melalui penampilan gereja-Nya. Jadi Kristus yang adalah roh, nampak jelas melalui kehidupan gereja-Nya yang hidup dalam kesatuan, yaitu kesatuan yang rapi tersusun diikat oleh pelayanan yang berlandaskan kasih.

Keempat, Hidup sebagai mempelai Kristus. Dalam Wahyu 19:7-9 disebutkan tentang perkawinan Anak Domba dengan pengantin-Nya yaitu gereja. Yesus menyerahkan diri-Nya dan mengasihi gereja-Nya. Sebagai pengantin perempuan, gereja diperintahkan untuk selalu siap sedia menyongsong kedatangan mempelai laki-laki. Gereja harus menjaga kesuciannya dan menantikan mempelainya dengan setia (Efe. 5:25). Dalam masa penantian sekarang ini, gereja sebagai mempelai perempuan harus hidup dalam kasih yang sempurna kepada Kristus. Kasih itulah yang akan mendorong gereja tetap menjaga kesuciannya dan melakukan perintah Kristus dengan setia.

Jadi, gereja dipanggil untuk menjalankan misi Allah bagi dunia ini. Di kalangan kristen ada dua gerakan misi dengan pola pendekatan yang berbeda, ada yang pendekatan oikumenikal dan yang satunya pendekatan evangelikal. Dalam point berikut akan diuraikan gerakan yang menggunakan pendekatan evangelikal.

 2. Gerakan Injili.

Injili dalam pengertian umum, berkaitan dengan semua gereja, karena setiap gereja haruslah berpegang teguh pada Injil Yesus Kristus. Amanat Agung Tuhan Yesus ditujukan kepada semua orang percaya. Kemudian, istilah Injili sebagaimana yang dilekatkan pada anggota-anggota kelompok gereja-gereja Injili, muncul di Amerika Serikat sejak tahun 1940-an, kemudian menyebar ke seluruh dunia dan mencapai puncak perkembangannya pada dasawarsa 1970-an.

Dalam perjalanannya, gereja sering kali mengalami tantangan dan godaan yang membuat gereja tidak lagi berpegang teguh pada ajaran yang murni sesuai dengan Firman Tuhan. Sebagai reaksi atas keadaan demikian, muncullah upaya-upaya untuk meluruskan atau mengembalikan gereja kepada ajaran yang sesungguhnya. Sejarah gereja membuktikan hal ini. Di Nicea pada tahun 325 Masehi dilaksanakan konsili pertama yang diikuti oleh 318 orang, yang membahas berbagai hal, salah satunya adalah tentang kodrat Kristus. Antara pengajaran Athanasius dan Arius terdapat pertentangan, dan konsili membenarkan pandangan Athanasius.[4] Selanjutnya pada tahun 431 diadakan Konsili di Efesus. Setelah bersidang beberapa termin maka diambil keputusan-keputusan penting, salah satunya adalah mengecam ajaran-ajaran Nestorius sebagai ajaran-ajaran yang keliru, serta memaklumkan bahwa Yesus bukanlah dua pribadi (hipostasis) yang terpisah melainkan satu pribadi utuh yang memiliki kodrat insani maupun kodrat ilahi.[5] Kedua konsili di atas membuktikan bahwa dalam perjalanannya, gereja mengalami berbagai tantangan dan perubahan. Pada zaman Reformasi, gereja sudah dianggap melenceng sangat jauh. Faktor mendasar dari timbulnya reformasi adalah perbedaan antara ajaran teologi dan praktek Gereja Katolik Roma dengan ajaran Alkitab. Tetapi peristiwa pemicu reformasi itu adalah penjualan surat penghapusan siksa di Jerman oleh Johan Tetzel. Dan Luther menentang propoganda Tetzel tersebut, lalu Luther menyusun 95 dalil kemudian menempelkan pada pintu gerbang gereja di Universitas Wittenberg pada tanggal 31 Oktober 1517.[6] Tindakan Marthen Luther ini disebut sebagai awal mula gerakan Injili. Jan S. Aritonang mengatakan, “Marthen Luther dan para penerusnya menyebut gereja produk gerakan Reformasi itu dengan nama Evangelische Kirche (terjemahan harfiah: Gereja Injili). Nama itu digunakan untuk menegaskan bahwa Reformasi beserta gereja yang dihasilkannya hendak kembali kepada Injil yang murni sebagaimana terdapat dalam Alkitab sebagai satu-satunya sumber ajaran dan dasar kehidupan gereja.”[7] Dengan gerakan ini maka gereja mengalami babakan baru dalam mengemban misi Allah bagi dunia. Gereja Protestan semakin berkembang dengan pesat. Berbagai aliran gereja mulai muncul. Lalu bagaimana dengan gerakan Injili yang kita kenal sekarang? Jan S. Aritonang mengatakan, “Bila kita berbicara tentang gerakan atau aliran Injili pada masa kini, maka yang dimaksudkan adalah gerakan atau aliran gerejawi yang terutama muncul di Amerika Serikat sejak 1940-an (didahului atau dicikal-bakali oleh gerakan dan paham fundamentalisme), lalu menyebar ke seluruh dunia, dan mencapai puncak perkembangannya pada dasawarsa 1970-an (mungkin masih berlanjut hingga sekarang).”[8] Salah satu tokoh Gerakan Injili yang sangat terkenal dan telah memberikan semangat besar bagi gerakan Injili adalah Pdt. DR. Billy Graham. Ia telah menjadi simbol dan maskot gerakan Injili. Ia bahkan mendapatkan kepercayaan menjadi penasehat presiden Amerika Serikat. Maria Rita Hasugian mengatakan, “Graham merupakan satu-satunya pendeta yang berperan sebagai penasehat sejumlah presiden AS dari masa Richard Nixon, Bill Clinton, Barack Obama hingga Donald Trump.[9] Ditambah lagi dengan terpilihnya Jimmy Carter, seorang tokoh gerakan Injili menjadi presiden Amerika Serikat, membuat gerakan Injili semakin maju pesat. Jan Aritonang menuliskan, “Bukti kejayaan kaum Injili ini semakin nyata ketika pada tahun itu (1977) Jimmy Carter yang sering dijuluki ‘Mr. Evangelikal’, terpilih menjadi presiden Amerika Serikat. Pada waktu itu orang bangga mengaku dan disebut Injili. Istilah ini tidak lagi digunakan sebagai cemooh, seperti sering terjadi pada masa sebelumnya. Masa kejayaan gerakan Injili ini berlangsung bersamaan dengan bangkitnya secara mencolok minat masyarakat kepada agama, terutama yang menekankan penghayatan dan mengalaman pribadi, termasuk kepada agama-agama dan kebatinan Timur.”[10]

Keunggulan gerakan Injili adalah pada komitmennya memelihara prinsip-prinsip fundamental dari Injil ditengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara serta memberikan solusi terhadap kebosanan dan rasa tertekan yang dialami oleh masyarakat modern. Jan Aritonang mengatakan, “Harus diakui bahwa para pemimpin gerakan Injili sejak kemunculannya pada dasawarsa 1940-an berakar dan dididik di lingkungan yang menganut paham fundamentalisme. Tetapi gerakan Injili, sebagaimana dikonotasikan oleh namanya, merupakan gerakan yang lebih menganut sikap konstruktif ketimbang defensif-separatis seperti tersirat pada istilah fundamentalis. Kaum Injili tidak mengambil posisi sebagai pembela ‘fundamen-fundamen iman’ melawan kebudayaan. Dalam menghadapi liberalisme dalam teologi dan kebobrokan budaya, mereka lebih cenderung  memelihara prinsip-prinsip fundamental dari Injil sambil terjun ke dalam masyarakat modern dengan tujuan mempengaruhi dan membaharuinya.”[11]

 

Di Indonesia, gerakan Injili muncul sekitar tahun 1950-an, walaupun sesungguhnya ada beberapa gereja yang beranggotakan PGLII telah berdiri sebelum tahun 1950, dan gereja-gereja tersebut menggabungkan diri dalam gerakan Injili. Berkembangnya gerakan Injili di Indonesia tidak terlepas dari peran lembaga-lembaga Injili seperti: Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII), Institut Injili Indonesia (I-3), Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), STT Jaffray dan beberapa sekolah tinggi teologi lainnya. Jan S. Aritonang menuliskan, “Salah satu tonggak yang menandai kehadiran gerakan ini (gerakan Injili) di Indonesia adalah Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII) yang didirikan pada tahun 1961 menyusul Institut Injili Indonesia (I-3) yang didirikan di Batu-Malang pada tahun 1959 dengan dukungan dari gerakan dan persekutuan Injili (Evangelikal) dari Jerman. Salah satu tonggak lain yang juga patut disebut adalah Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), juga di kota Malang.”[12]

 3. Manfaat Gerakan Injili Bagi Kekristenan Masa Kini.

Gerakan Injili telah memberikan gairah dan semangat bagi gereja-gereja dalam menghadapi tantangan kehidupan di era modern, pasca modern, bahkan di era millenial ini. Sama seperti pada awal perkembangannya, masyarakat modern waktu itu menghadapi tantangan liberalisme, juga kebosanan dan rasa tertekan dalam kehidupan sehari-hari yang didominasi teknologi sehingga perhatian terhadap manusia sebagai pribadi yang memiliki dimensi spiritual kurang mendapat perhatian. Di sinilah gerakan Injili dinilai sebagai pemberi jawaban yang tepat. Demikian juga di era millenial ini, dimana individualitas semakin meningkat serta ketergantungan pada teknologi informasi yang akan berdampak pada aspek spiritual tidak tersentuh secara maksimal, akan menjadi lahan yang sangat luas bagi gerakan Injili. Modifikasi-modifikasi pendekatan pelayanan boleh dilakukan seiring dengan perkembangan zaman, namun tidak boleh meninggalkan aspek-aspek fundamental yang menjadi ciri dan inti gerakan Injili. Semangat melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus adalah mutlak bagi gereja, bukan hanya oleh para pemimpin gereja melainkan setiap orang yang mengaku diri pengikut Kristus. Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII), yang didirikan pada tanggal 17 Juli 1971 di kota Batu, Malang, Jawa Timur, dengan motto “Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil”, adalah wadah yang sangat tepat untuk bersinergi bersama membangkitkan gerakan Injili. Agar PGLII tetap memiliki cahaya yang terang dan kesaksian yang nyata, maka ia harus tetap konsisten mempertahankan nilai-nilai luhur gerakan Injili. Persekutuan harus dikelola secara Alkitabiah tanpa pengaruh atau intevensi sistem duniawi. Arus duniawi memang semakin hari semakin kuat memadamkan api Injil, namun persekutuan yang terkelola secara Alkitabiah akan tetap memberikan gairah baru bagi setiap gereja dan lembaga anggota untuk selalu memancarkan terang Kristus di dunia yang gelap. Doa dan harapan kita semoga di ulang tahun emas ini PGLII semakin maju. Tuhan Yesus memberkati.

 

Kepustakaan:

Buku:

Aritonang, Jan S., Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999.

Brake, Andrew, Menjalankan Misi Bersama Yesus: Nasihat-Nasihat Bagi Gereja Dari Kisah Para Rasul, Bandung: Kalam Hidup, 2016.

Lane, Tony, Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

 

Internet:

https://id.wikipedia.org/wiki/Konsili_Nikea_I#Ikthisar

https://www.pemikiranmahasiswa.my.id/2020/02/reformasi-gereja-dijerman-pada-abad-16.html

Maria Rita Hasugian, Billy Graham, Pendeta dan Penasehat Presiden AS Wafat, (https://dunia.tempo.co/read/1063221/billy-graham-pendeta-dan-penasehat-presiden-as-wafat/full&view=ok)

 

 

Penulis:

Nama: Pdt. Yulianus Tandirerung, M.Div

Jabatan:

1. Ketua Sinode Gereja Kerapatan Injil Bangsa Indonesia (Gereja KIBAID);

2. Ketua Wilayah PGLII Sulawesi Selatan;

 



[1] Tony Lane, Runtut Pijar, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 7

[2] Ibid, 8

[3] Andrew Brake, Menjalankan Misi Bersama Yesus: Nasihat-Nasihat Bagi Gereja Dari Kisah Para Rasul, (Bandung: Kalam Hidup, 2016), 53

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Konsili_Nikea_I#Ikthisar

[5] Ibid.

[6] https://www.pemikiranmahasiswa.my.id/2020/02/reformasi-gereja-dijerman-pada-abad-16.html

[7] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 228.

[8] Ibid.

[9] Maria Rita Hasugian, Billy Graham, Pendeta dan Penasehat Presiden AS Wafat, (https://dunia.tempo.co/read/1063221/billy-graham-pendeta-dan-penasehat-presiden-as-wafat/full&view=ok)

[10] Jan. S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 253.

[11] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), 239.

[12] Ibid. 229

Komentar